Tampilkan postingan dengan label Apri's Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apri's Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

FIKSI

       
    Tuhan, Akan Kucoba!       
 Oleh Apriyanti Larenta

Berpikir positive. Itulah sikap hidup yang selalu dianut eyang putriku. Sikap yang ditularkannya padaku. Atau setidaknya, sejak kecil aku selalu mencoba untuk bersikap sama seperti eyang putri dalam hidup: Tabah dan tegar dalam menghadapi tantangan hidup. Dan, ia unik! Terutama bagaimana cara wanita yang telah melahirkan ibuku itu bersikap dalam menghadapi segala masalah, selalu membuat kami terperanjat. Sebab, apa pun yang menimpa kami, ia selalu berujar: „Jangan sedih! Seharusnya kita masih harus bersyukur.“ Ya! Itulah keajaiban Eyang Putriku. Selalu arif dan bijaksana, tanpa mau tersentuh sedikitpun oleh pemikiran negatif.  Pendek kata, Eyang putri mengagumkan. Dan akulah penggemar terdepan sosok eyang putri. Ia adalah idolaku. Bagiku, Eyang  Putri dengan garis-garis ketuaan yang merias wajahnya, lebih sexy dari JLO  yang juga kupuja.Hihi.


FIKSI



Cinta Ciyantie
   By Apriyanti Larenta


Ciyantie, si gadis cantik berusia duapuluh lima tahun itu memejamkan mata di atas pembaringan. Rasa pedas menggigit kedua matanya, letih namun tak ingin terpejam. Gadis itu hanya mampu menggerakkan tubuh rampingnya ke kanan dan ke kiri. Kegelisahan menekan sanubarinya. Kerinduan mencekam merambati hatinya. Tapi apalah dayanya, jika kekasih yang dirindu adalah Rangga, suami Andarie sahabat karibnya. Andarie, sahabat sejati dalam suka duka hidupnya. Sosok yang telah dianggap bagai kakak kandungnya sendiri.Bayangkan!
      Ciyantie membenamkan kepala di balik selimut, seakan hendak membelai hatinya dengan kelembutan selimut yang menutupi tubuhnya. Ya! Hatinya yang terluka oleh rindu mendalam pada Rangga perlu belaian. Setidaknya, belaian lembut selembar selimut. Hatinya mendesah perih. Seketika pikirannya menyajikan wajah tampan Rangga. Sinar mata itu! Ah, betapa teduhnya. Taman hati Ciyantie yang penuh taburan wajah Rangga berdesir sendu. Kepak sayap hatinya terasa lemah. Ia bagai burung kecil yang tak berdaya.
       Ciyantie membalikkan kembali tubuhnya di atas pembaringan. Kembali resah. Sungguh, ia membenci sendiri dirinya yang lemah, yang  tak mampu mematikan  bunga cinta di dadanya. Malah sebaliknya, bunga terlarang itu kian  menemukan ladang subur di hatinya.  Sungguh tak pantas. Benar-benar bunga cinta pembawa petaka. Betapa tidak? Persahabatannya dengan Andari tentu saja